
JAKARTA – Burung gereja, atau biasa disebut burung pingai, adalah jenis burung pipit kecil yang berasal dari keluarga Passeridae. Meskipun sering terlihat berterbangan di langit pedesaan maupun perkotaan, ada beberapa alasan mengapa burung gereja tidak sebaiknya dipelihara. Berikut adalah alasan-alasan tersebut.
1. Risiko Penularan Penyakit
Burung gereja, khususnya yang dipelihara dalam jumlah banyak seperti di tempat hiburan atau kompetisi burung, dapat menjadi sumber penularan penyakit. Burung ini sering memakan berbagai jenis makanan, bahkan sisa-sisa makanan manusia, yang meningkatkan risiko penularan penyakit. Salah satu penyakit yang dapat ditularkan adalah salmonellosis, yang menyebar melalui kontak langsung dengan kotoran burung gereja.
Referensi untuk penelitian lebih lanjut:
- Jurnal tentang zoonosis dan penyakit yang ditularkan dari burung ke manusia, seperti jurnal “Salmonella and Public Health” oleh World Health Organization (WHO).
- Buku tentang penyakit zoonotik, seperti “Zoonoses: Biology, Clinical Practice, and Public Health Control” oleh R. I. Mackenzie.
2. Gangguan pada Kehidupan Manusia
Kotoran burung gereja juga dapat menjadi gangguan yang merugikan bagi kehidupan manusia. Kotoran tersebut mengandung amonia, yang dapat berdampak buruk bagi kesehatan manusia jika terpapar dalam jangka waktu lama. Selain itu, cakar burung gereja dapat merusak properti rumah, yang menambah kerugian bagi pemilik tempat tinggal.
Sumber untuk pendalaman lebih lanjut:
- Buku “Amonia in the Environment: Sources, Effects and Mitigation” oleh A. S. De Moraes.
- Artikel yang membahas dampak kesehatan dari kotoran burung pada manusia.
3. Stres dan Masalah Kesehatan pada Burung Gereja
Burung gereja adalah hewan liar yang lebih terbiasa dengan kehidupan di alam terbuka. Memelihara burung gereja dalam sangkar dapat menyebabkan mereka stres, yang akhirnya mempengaruhi kesehatan mereka. Stres pada burung gereja dapat menyebabkan gangguan pernapasan, masalah pencernaan, hingga kerontokan bulu.
Penelitian terkait:
- Buku “Animal Welfare and Behaviour in Livestock Farming” oleh C. G. S. R. P. N. R. Sangha, yang membahas stres pada hewan piaraan.
- Jurnal mengenai efek stres pada burung liar dalam penangkaran.
4. Aroma yang Kurang Sedap
Burung gereja juga dikenal memiliki aroma yang tidak sedap, terutama jika terjadi penumpukan kotoran pada kandang atau sangkar mereka. Semakin dekat dengan burung gereja, aroma tersebut semakin tercium dan dapat mengganggu indera penciuman.
Sumber yang relevan:
- Buku “Animal Odor and Its Impact on Human Health” oleh M. W. M. Tu, yang membahas masalah bau dari hewan.
- Artikel mengenai kebersihan dan sanitasi dalam perawatan burung piaraan.
5. Peran Burung Gereja dalam Ekosistem Alam
Burung gereja memiliki peran ekologis yang sangat penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Mereka berperan dalam penyerbukan tumbuhan dan penyebaran benih tanaman. Oleh karena itu, habitat alami burung gereja sangat penting untuk kelangsungan tumbuhan di sekitar mereka. Memelihara mereka di luar alam dapat mengganggu keseimbangan ekosistem.
Referensi untuk memperkaya topik:
- Jurnal tentang peran burung dalam penyerbukan dan ekosistem, seperti “Avian Pollination: Birds as Pollinators” di jurnal Ecology.
- Buku “The Ecology of Birds” oleh R. A. Hutto, yang membahas hubungan antara burung dan ekosistem.
Kesimpulan
Memelihara burung gereja bukan hanya dapat menimbulkan risiko kesehatan bagi manusia, tetapi juga berpotensi mengganggu keseimbangan alam. Dengan memahami alasan-alasan ini, kita dapat lebih bijaksana dalam mempertimbangkan interaksi kita dengan fauna di sekitar kita, serta menjaga kelestarian ekosistem dan kesehatan.